IBX58219C4B0CE9E Eksplorasi Folklore kawasan Adat Amma Toa Kajang Bulukumba
scroll to top

Eksplorasi Folklore kawasan Adat Amma Toa Kajang Bulukumba

AMMATOA.COM – Dalam masyarakat Adat Amma Toa Kajang Bulukumba cukup banyak upacara atau ritus-ritus sosial yang sering dilakukan dalam lingkungan atau kawasan adat. Diantara tradisi yang muncul turun temurunterdapat Tradisi Angnguru, Akkatere, Akkalammasa, dan Akkalomba. Saking teguhnya pada prinsip adat kawasan ini, sehingga upacara ataupun ritus-ritus sosial menjadi hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat adat ini.

Upacara adat dikawasan ini di mulai dari awal terbentuknya manusia (dalam kandungan) sampai pada akhir hidup warga adat kawasan ini semua tak lepas dari upacara adat . Posisi Matahari bergerak hampir tepat diatas kepala, sekitar pukul 11.00 Wita tibalah rombongan di gerbang yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI KAWASAN ADAT AMMA TOA” , untuk sampai di gerbang ini perjalanan sedikit menantang, diantara 2 tikungan yang cukup menantang, yakni tikungan ke kanan dan tikungan ke kiri.

kawasan adat ammatoa

Setelah beristirahat beberapa menit, bergeraklah satu persatu rombongan menuju rumah kediaman Amma ( Sapaan akrab Amma Toa ), untuk menuju kediaman Amma pemuka adat tak lupa mengingatkan agar alas kaki pengunjung di lepas setelah melewati gerbang tersebut, maka sebagai penghormatan terhadap adat, alas kakipun dilepas satu persatu.

Dan bergeraklah masuk melewati jalan pengerasan yang berdasar kerikil , ukuran lebar jalan kira-kira kurang lebih 3 meter, karena matahari begitu terik jalanan yang berdasar tanah dan kerikil begitu terasa panas ditelapak kaki. Saking panasnya rombongan kadang berlari-lari kecil menghindar dari sengatan panas kerikil disepanjang jalan tersebut. Sepanjang jalan aktifitas warga seperti biasa rumah-rumah warga adat yang kental dengan naturalnya.

Selang beberapa menit tiba depan rumah kediaman Amma, banyaknya pengunjung sehingga harus antri untuk dapat bertatap muka atau berdilalog dengan Amma, sebelum menaiki rumah panggung tersebut masih sempat singgah dirumah warga adat, dengan ramahnya beberapa warga melepas senyum dan tak lupa berdialog dengan menggunakan bahasa setempat. Warga adat inipun memberi informasi panjang lebar bahwa hari ini bertepatan dengan pelaksanaan “Addangang “ yakni acara peringatan 40 hari kematian warga adat ini.

Dari perbincangan yang relatif singkat, saya mencoba menyederhanakan pembahasan khusus untuk upacara adat kematian dikawasan ini. Khusus pada upacara kematian menurut warga adat lazimnya ada 3 kegiatan utama yakni : Aklajo –lajo, Addangang dan Addampo.

1. Aklajo-lajo
aklajo-lajo sering di selenggarakan pada hari ketujuh, yaitu jika orang yang meninggal itu sudah sampai hari ke 7 , acaranya baca do’a kemudian menyerahkan sejumlah pakaian kepada guru ate pemimpin agama. Barang-barang yang diserahkan seperti sarung songkok, celana, tempat tidur Dan lain-lain.

2. Addangang
Kegiatan “Addangang” dilaksanakan tepat pada hari ke 40 dari kematian masyarakat adat, pelaksanaan pesta ini biasanya tergolong meriah karena biasanya ditandai dengan penyembelihan kerbau atau sapi sampai 2 ate 3 ekor, inti acara ini adalah meneggakkan batu nisan di atas pusaradan memagari pusara selesai itu berdo’a Dan makan bersama seluruh warga kawasan adat amma towa, acara Addangang ini dapat dianggap sah jika dihadiri oleh semua perangkat adat Dan pemerintah setempat. Oleh masyarakat adat lazim menyebutnya dengan Dalle’ Lasa’ra artinya matahari yang akan tenggelam

3. Addampo
Acara Addampo adalah merupakan pesta terakhir yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Amma Toa Kajang. Addampo dilaksanakan pada hari ke-100. Menurut warga adat pesta ini tergolong paling meriah.

Inti dari acara ini adalah membuka kembali pagar yang di buat pada hari ke 40 yang warga adat menyebutnya Akrabba Kalli atau merobohkan pagar. Sesudah merobohkan pagar pusat kegiatan di pusatkan pada rumah tempat pesta, kepala adat dan pemerintah setempat wajib hadir pada acara ini, termasuk adat Limayya, Karaeng Tallua.Acara di mulai setelah semua pemangku adat hadir.

Dalam pengetahuan warga adat setelah berlangsungnya addampo maka hubungan antara roh yang meninggal dengan keluarganya soda semakin jauh. Menurut kepercayaan warga adat sesudah hari ke -100 dari kematian , disitulah penentuan apakah seseorang meninggal dalam keadaan baik atau tidak.

Kategori kematian yang baik menurut ada adalah ketika melewati 100 hari jasadnya soda hancur kembali menjadi tanah yang istilahnya disebut Amminro mange ri assalana’. (kembali ke asalnya;tanah ), kematian yang dianggap kurang baik ketika wujud jasadnya tidak hancur hanya mengering atau masyarakat adat mengistilahkan Akkaleo (kata “kaleo” ini berasal dari bahasa Konjo;bahasa sub etnis Makassar yakni buah mangga yang dikupas dan dibelah-belah kemudian dikeringkan dengan terik matahari, biasa juga di sebut “pakkacci” ;asam), akkaleo ini, jasad hanya mengering atau orang banyak menyebut akkora-kora. Ada juga jasad yang mengalami perubahan yaitu kukunya memanjang atau bahasa kawasan adat “Aklonrongi” artinya memanjang.

Selain yang di atas warga adat juga meyakini ada juga bentuk kematian yang jasadnya lenyap, mereka istilahkan dengan “lannyaki” biasa juga mereka istilahkan Sajang. Adapun yang dimaksud Sajang adalah kondisi dimana jasad sudah menghilang sebelum di kuburkan sehingga yang dikuburkan tertinggal tikar dan pembungkusnya. Kematian seperti ini menurut warga adat adalah bagi warga yang paling baik amal perbuatannya dan mempunyai keistimewaan seperti yang di alami oleh Amma Toa I.

Selanjutnya…. Sifat-sifat yang membawa keselamatan bagi ummat manusia (Pesan ke arifan Amma Toa Kajang)

Eksplorasi Folklore kawasan Adat Amma Toa Kajang BulukumbA (Tana Toa Kajang, Minggu 8 Nopember 2015)

VIA: Oleh : Muh Amran Jabal

Eksplorasi Folklore kawasan Adat Amma Toa Kajang Bulukumba
4.8 (96.67%) 6 votes

Tagged as: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan