IBX58219C4B0CE9E Suku Konjo Bulukumba: Tak Kenal Maka Tak Sayang
scroll to top

Suku Konjo Bulukumba: Tak Kenal Maka Tak Sayang

Ammatoa.com – Mau datang ke Kawasan Adat Ammatoa di Kajang, Bulukumba Sulawesi Selatan? Datang saja ke sana dengan kerendahan hati, kejujuran, dan senyum. Suku ini ternyata lebih terbuka dibandingkan kisah-kisah yang mengatakan bahwa mereka tidak menerima kedatangan wisatawan. Sebenarnya apa dan siapa sih masyarakat adat Ammatoa yang biasa disebut orang Kajang ini? Sebagai gambaran, ingat suku Baduy di Banten? Nah, orang Kajang mirip-mirip deh kayak gitu.

Terkesan “terbelakang” dan enggan bersosialisasi dengan orang luar, dan mistis. Sekali lagi saya tekankan: Terkesan. Karena faktanya tidak demikian. Mari saya ceritakan dikit mengenai Kajang dan seluk beluknya, hasil dari jalan-jalan dan pandangan mata saya saat ACI 2011 bersama Oke dan Kak Nunuk.

suku konjo

Masyarakat Kajang memiliki kearifan lokal yang betul-betul concern dengan pengelolaan hutan. Mengapa demikian? Apakah karena daerah ini terpencil? Surprisingly tidak. Lokasi Kajang hanya sekitar 30 km dari Kabupaten Bulukumba, namun mereka menganggap kalau hutan itu memberi segalanya, sehingga harus dijaga dengan baik.

Filosofi masyarakat kampung adat suku Kajang/Konjo

Ammentengko nu kamase-mase, accidongko nu kamase-mase, a‘dakkako nu kamase-mase, a‘meako nu kamase-mase (berdiri engkau sederhana, duduk engkau sederhana, melangkah engkau sederhana, dan berbicara engkau sederhana).

Jika ada pelanggaran seperti potong pohon seenaknya, dapat didenda 1 hingga 2,5 jt. Denda paling berat: dikucilkan. Lalu apa agama orang-orang Kajang? Terdengar suara adzan di sela-sela waktu saya di sana, namun mereka beranggap bahwa agama adalah patuntung, berasal dari tuntungi, kata dalam bahasa Makassar yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Mencari sumber kebenaran”. Wallahualam.

Yang menarik dari Kajang, rumah panggung mereka ini terbuat dari kayu yang seluruhnya menghadap barat. Selain itu, dapur yang umumnya terletak di bagian belakang rumah, di sini malah terletak di ruang tamu. Menurut keponakan Pak Kades yang mengantar kami di pagi hari setelah menginap semalam di rumahnya, filosofi dari hal itu adalah karena mereka menganggap semua manusia itu sama derajatnya, dan dapur di depan karena mereka menunjukkan bahwa mereka terbuka dengan tamu yang datang berkunjung.

Seperti waktu saya namu ke rumah Ammatoa dan disambut oleh istrinya (ombu), betul lho dapurnya ya di ruang tamu itu. Penganan yang disuguhkan semacam kue gula merah yang enak, dan sembari saya bermain dengan cucu Ombu, terlihat oke ngobrol dengan ombu pake bahasa mereka masing-masing, namun mereka berdua ketawa-ketiwi seakan saling ngerti!

Oh ya, jangan lupa untuk memakai baju berwarna gelap (biru donker-hitam) saat menyambangi daerah ini. Selain untuk menghormati masyarakat setempat, pakaian gelap yang mereka kenakan itu memiliki arti kesederhanaan sehingga mereka selalu mawas diri. Jika sudah masuk kawasan Ammatoa, hati-hati ketika jeprat jepret. Selalu tanyakan kesediaan mereka, maukah mereka untuk difoto, karena orang Kajang itu kalau jalan kaki sangat cepat. Jadi daripada dapet foto jelek, mending minta ijin dulu.

Bagaimana caranya menempuh Kajang dari Makassar, pergilah ke terminal Malengkeri (bukan Mariah Carey). Carter Panther di situ untuk ke Bulukumba. 275 rb, non AC, waktu tempuh sekitar 3-4 jm (250 km). Dari Bulukumba, bisa tanya-tanya transportasi ke Kajang, namun biasanya jarang. Saya sendiri diantar oleh ajudan Kadis Pariwisata Bulukumba dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.

Usahakan juga punya network orang yang pernah ke sini juga untuk memperkenalkan kamu kepada Kepala Desa. Karena di tangan kepala desa inilah keputusan apakah kamu bisa masuk lagi ke Kajang bagian dalam atau tidak. Again, seeing is believing. Jadi, daripada banyak ketakutan dan menganggap mistis hal-hal yang belum kamu ketahui, lebih baik langsung saja datang ke Kajang dan tebarkan senyuman kepada mereka. Happy traveling! 🙂

Trivia Kajang:

  • Kenapa namanya Kajang? Menurut mitos di sana, burung kajang adalah cikal bakal manusia yang dikendarai oleh To Manurung sebagai Ammatoa.
  • Bahasa yang digunakan oleh penduduk suku Kajang adalah Bahasa Makassar dialek Konjo.
  • Tidak ada bedanya Kajang dalam dan luar, jangan sekali-kali membedakan karena nanti kena lirikan maut dari Kades Kajang.
  • Suku Kajang di Tana Toa (Kajang bagian dalam) tidak memiliki perabotan, tidak ada kursi, kasur, ataupun alat elektronik karena katanya mengganggu hubungan dengan leluhur. Sedangkan di bagian luar (minimal yang saya liat di rumah pak Kades) sudah ada sofa, bahkan ada TV.
  • Jika dulu tidak ada sekolah, sekarang sudah ada, tapi letaknya tepat di perbatasan antara kawasan Tana Toa dan Kajang bagian luar.
  • Ammatoa (kepala adat Tana Toa) tidak boleh difoto dengan istrinya, dan jangan pernah nekat.
  • Salah satu mata pencaharian ibu-ibu di kampung adat Kajang: menenun. 1 kain dijual kurang lebih Rp 400.000

Via: titiw.com

Suku Konjo Bulukumba: Tak Kenal Maka Tak Sayang
4.4 (87.2%) 25 votes

Tagged as: , , ,

Tinggalkan Balasan