Ammatoa.com – Aku masih ingat waktu kuliah dulu ada temen yang ditaksir sama orang Sulawesi, terusnya ditanya macam-macam deh. Kaya mau didatengin kampungnya aja deh nanyanya, padahal alesannya konyol banget kayanya deh, supaya ga dipelet atau disantet. Hah? Emang katanya ngeri banget kalo ditaksir sama orang dari Sulawesi Selatan, harus hati-hati, jangan-jangan dia suku Kajang.

Dulu sih selewat aja denger kaya gitu, tapi sekarang jadi ikutan serem juga deh. Soalnya aku baca nih kalo emang ilmu santet dan pelet orang-orang suku Kajang tuh mengerikan, mereka bisa ‘ngirim’ dari jarak jauh. Ga segan bikin orang yang ditujunya menderita bahkan mati. Ih nyeremin. Jadi jangan bikin orang suku Kajang sakit hati kalo ga mau punya resiko kaya gitu, duh sebelum soal sakit hati mending ga pernah ditaksir sama orang dari suku itu deh 🙁

doti

Biarpun sekarang udah modern, Suku Kajang di Bulukumba Sulawesi Selatan itu masih ada yang hidup dengan adat dan tradisinya. Mereka jauh dari modernisasi, ga ada barang elektronik, boro2 internet. Semua itu katanya bikin mereka jauh dari leluhur dan alam, padahal keterikatan mereka pada leluhur yang bikin dunia mistis di sana kuat banget. Banyak guna-guna yang hanya bisa punah dengan kematian.

Daerah Kajang juga terkenal dengan hukum adatnya yang sangat kental dan masih berlaku hingga sekarang. Mereka menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi, kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Mungkin disebabkan oleh hubungan masyarakat adat dengan lingkungan hutannya yang selalu bersandar pada pandangan hidup adat yang merekayakini.

Hitam merupakan sebuah warna adat yang kental akan kesakralan dan bila kita memasuki kawasan ammatoa pakaian kita harus berwarna hitam. Warna hitam mempunyai makna bagi Mayarakat Ammatoa sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan. tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya.

Semua hitam adalah sama. Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta. Kesamaan dalam bentuk wujud lahir, menyikapi keadaan lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang harus di jaga keasliannnya sebagai sumber kehidupan. Oleh karena itu, kami membuat makalah ini untuk meneliti kehidupan di salah satu desa yang ada di kajang yaitu desa Lem’banna.

Suku Kajang merupakan suku yang masih memegang teguh ritual adatnya hingga saat ini. Meskipun sekarang sudah banyak suku pedalaman yang meninggalkan ritual adatnya. Suku kajang juga merupakan suku yang sangat tidak bisa menerima perubahan meskipun hanya sedikit. Mereka menganggap perubahan itu melanggar hukum adat yang di buat oleh nenek moyang mereka.

Masyarakat adat suku Kajang terletak di Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Bulukumba merupakan sebuah kabupaten yang berada di ‘kaki’ Pulau Sulawesi, kurang lebih 200 km arah selatan Kota Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan.

Update Info From Komentar anarseptember :

Suku kajang, adalah suku yang beradab. Meski sebagian warga asli suku kajang tak mengenyam pendidikan yang cukup lama, tapi mereka mampu membedakan mana yang baik dan mana pula yang benar.

Mereka jauh dari moderenisasi tapi setidaknya ada dari mereka yang paham akan moderenisasi. Banyak diantara putra kajang yang berprestasi dalam dan luar negeri.

Persoalan ilmu sihir(doti) itu tidak se enak bacot untuk di pergunakan, perlu pertimbangan yg jelas dan kejelasan yang pasti.

Jadi jika ada yang mengatas namakan dirinya dari kalangan suku kajang dan se enaka jidatnya ingin mengirim doti, harap di abaikan saja, suku kajang adalah suku yang menjunjung tinggi kearifan, kebijaksanaan, sosial dan budaya.
Suku kajang adalah suku yang menjaga budaya dan alam, hingga etnis dan budaya suku kajang masih sangat kental.

VIA: CERITAMU.COM

Doti, Guna-guna Suku Kajang yang Mematikan, Benarkah demikian?
4.7 (94.09%) 88 votes