Kisah Warga Kajang “I Konte” Pingsan Usai Usap Linggis

AMMATOA.COM – Warga Kajang punya ritual tersendiri untuk mengungkap kebenaran dalam kasus pencurian. Salah satunya tunu panroli atau bakar linggis.

Suatu hari seorang warga Tanatoa Kajang bernama I Banro memergoki I Sompala yang sedang menebang pohon di Borong Batasayya. Borong Batasayya adalah hutan adat yang wajib dijaga dan dilindungi.

I Banro melaporkan kejadian tersebut kepada Ammatoa, pemimpin adat Kajang. Setelah mengadakan rembuk adat, diputuskan untuk menangkap dan mengadili I Sompala.

I Sompala berkeras tak mau menyampaikan siapa dalang yang memerintah dirinya untuk menebang pohon dan menjual kayu-kayunya. Sebab, bukan hanya nyawanya sendiri yang terancam, seluruh keluargannya juga.

Dengan lemah lembut Ammatoa meyakinkan I Sompala akan jaminan dirinya dan seluruh keluarganya. I Sompala pun mengatakan, bahwa yang menyuruhnya adalah I Konte.

I Konte adalah orang terpercaya. Dialah yang diberi amanah, bertugas untuk menjaga, merawat, dan melestarikan hutan adat.

I Konte marah. Merasa harga diri dan kehormatannya diinjak-injak dengan tuduhan I Sompala, I Konte mengancam tidak akan diam atas perlakuan I Sompala.

Semua orang panik. Ammatoa menenangkan warganya. Kemudian diputuskan untuk melakukan ritual “tunu panroli”. Dalam ritual ini, linggis dibakar hingga membara untuk memastikan siapa yang berbohong di antara mereka.

Caranya, linggis yang merah membara itu harus diusap. Orang yang jujur tidak akan merasakan panasnya linggis itu. Sebaliknya, yang berbohong akan merasakan panas sebagaimana memegang bara api pada umumnya.

Ritual Attunu Panroli Tes Kejujuran dengan memegang linggis panas
Ritual Attunu Panroli Tes Kejujuran dengan memegang linggis panas

Satu per satu mengusap bara api pada linggis tersebut. Diawali Ammatoa, disusul I Sompala, kemudian I Konte. Ammatoa dan I Sompala tidak merasakan apa-apa. Saat giliran I Konte, seketika dia berteriak histeris. Dia berlari kesana kemari mencari air, dan meminta tolong pada semua orang.

I Konte pingsan. Ammatoa lalu menolongnya, mengobatinya. Tiba-tiba siuman. I Konte menangis, menyesali perbuatannya.

“Ampunilah saya, Amma. Sayalah yang menyuruh I Sompala. Saya lakukan semua itu hanya untuk memiliki banyak uang, dan dapat membeli apa saja,” katanya.

Ammatoa memaafkan mereka dengan syarat menjalankan hukum Pasangnga Ri Kajang, di antaranya membayar denda sesuai besaran perbuatannya.

Kemudian mereka bermaafan, Ammatoa pun tersenyum, kemudian berpesan kepada seluruh warganya.

“Jagai lino lollong bonena, kammayatompa langika, rupa taua siagang boronga (Peliharalah dunia beserta isinya, demikian pula langit, manusia dan isinya. Hiduplah makkamase-mase, hidup sederhana, saling menyayangi, bukan sebaliknya.. !)”

Cerita di atas merupakan cuplikan cerita rakyat karya Sabri Abian berjudul “Loho (Penjaga Kehormatan) pada lomba cerita rakyat daerah Sulawesi Selatan 2018. Acara itu digelar Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel D’Maleo Makassar, Sabtu (17/11/2018).

Cerita ini dibawakan Alya Nashwa, siswi SMP 1 Bulukumba. Gadis yang mengenakan pakaian hitam-hitam saat berlomba ini menyabet juara tiga mengalahkan 21 kabupaten/kota lainnya. Juara diraih Makassar disusul runner up Kabupaten Selayar.

“Alhamdulillah, kita berhasil meraih juara ketiga pada event kemarin. Ini sangat perlu untuk terus dikembangkan agar nilai keraifan lokal terjaga. Pegiat seni juga bisa menyalurkan karya-karyanya untuk dilombakan,” ujar Sabri Abian, Senin (19/11/2018).

Artikel: Kisah Warga Kajang yang Pingsan Usai Usap Linggis: VIA News.rakyatku.com

Satu pemikiran pada “Kisah Warga Kajang “I Konte” Pingsan Usai Usap Linggis”

Tinggalkan komentar