BULUKUMBA, AMMATOA.COM – Suku kajang yang merupakan sebuah komunitas adat di Sulawesi Selatan, dikenal dengan pakaian serbahitam.

Komunitas adat ini bermukim di desa Tana Toa, Kecamatan Kajang. Kabupaten Bulukumba. Setiap hari mereka menggunakan sarung hitam atau biasanya disebut ‘lipa’ le’leng’ yang mereka tenun sendiri dengan menggunakan pewarna alami.

sarung hitam
Seorang perempuan suku Kajang saat menenun sarung khasnya Lipa Le’leng (FOTO: Wiryanti)

Lipa le’leng atau sarung hitam adalah sarung khas dari suku Kajang yang dibuat dengan proses alamiah dan ditenun dari tangan-tangan terampil perempuan Kajang.

Sarung ini merupakan pakaian masayarakat Kajang yang digunakan sehari-hari. Sarung ini juga menjadi syarat ketika ada upacara-upacara adat di Kajang.

Alat yang biasanya digunakan merupakan warisan nenek moyang, terbuat dari bambu dan kayu, sedangkan proses pembuatannya memiliki ikatan dengan alam.

Pada umumnya perempuan di Kajang menenun di bawah rumah atau biasa juga di sebut siring.

Nenek Hanong, salah satu warga Tana Toa, mengatakan jika sarung hitam ini dibuat berdasarkan proses tradisional dengan tangan-tangan terampil perempuan Kajang.

“Tidak semua perempuan di sini bisa menenun. Keterampilan menenun juga lahir secara turun temurun. Pertama harus menanam daun tarung, selama beberapa bulan daun tarung dipetik kemudian direndam beberapa hari dalam baskom atau ember,” ungkapnya, Jum’at (4/8/2017).

Daun tarung merupakan sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna hitam yang digunakan sebagai dasar bahan untuk pewarna hitam untuk benang.

Dahulu sebelum menggunakan benang mereka menggunakan bahan baku kapas. Benang- benang putih mereka kemudian direndam beberapa hari dalam baskom lalu dijemur di bawah terik matahari selama beberapa jam.

Setelah proses menghitamkan benang dari daun tarung selesai. Benang-benang tersebut kemudian di pintal dan di masukkan kedalam alat tenun.

Proses menenun dalam satu sarung adalah tiga sampai empat bulan lamanya, Sarung hitam ini biasanya di beri motif biru, merah dan putih, yang di buat vertical.

Motifnya tidak ramai seperti kain-kain etnik pada umumnya. Sesuai dengan prinsip masyarakat Kajang sendiri yaitu sederhana.

Setelah melalui proses panjang, sarung hitam ini kemudian dibuat mengkilat, dalam bahasa kajang di sebut ‘garusu’. Sarung hitam dibuat mengkilat dengan menggunakan Kerang dari laut.

Penulis: Wiryanti
Mahasiswa KPI UIN Alauddin Melaporkan dari Kajang

Lipa’ Le’leng: Sarung Hitam Khas Suku Kajang
5 (100%) 7 votes