Mengenal Suku Kajang, Suku yang Populer Hingga Mancanegara

AMMATOA.COM – Di Pulau Sulawesi tepatnya di Bulukumba adalah kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan, banyak terdapat tempat wisata yang bisa di kunjungi seperti Pantai Marumasa, Pantai Tanjung Bira, dan lain lain. Namun di kedalaman Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Jaraknya sekitar 60 kilometer dari pusat kota Bulukumba, terdapat suku yang di kenal memiliki ilmu mistisnya. Suku kajang merupakan suku tertua yang ada di Desa Tana Toa.

Suku Ammatoa atau Suku Kajang ini adalah suku yang mencintai alam. Kecintaan Suku Kajang terhadap lingkungan dikarenakan Suku Kajang yang menganggap hutan selayaknya ibu sendiri, karena ibu adalah sosok yang dihormati dan dilindungi.

Suku adat Kajang Ammatoa di kawasan hutan adat Kajang Ammatoa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sabtu (4/11)
Suku adat Kajang Ammatoa di kawasan hutan adat Kajang Ammatoa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sabtu (4/11)

Ciri khas yang ada pada Suku Kajang ini adalah pakaian yang dikenakan oleh Suku Kajang, Suku kajang selalu menggunakan pakaian berwarna hitam dan tidak memakai alas kaki. Jika ada wisatawan yang ingin berkunjung maka pakaian yang diwajibkan memakai pakaian berwarna hitam. Karena menurut Suku Kajang warna hitam memiliki makna persamaan, persatuan dalam segala hal, dan kesederhanaan.

Semua hitam merupakan sama. Warna hitam juga menunjukkan kekuatan serta derajat di mata sang pemilik jagat. Kesamaan yang terkandung dalam warna ini juga dalam menyikapi tentang kondisi lingkungan, terutama kelestarian hutan yang wajib dijaga karena merupakan sumber dari kehidupan. Dilansir dari netralnews

Suku Kajang memiliki banyak ritual unik dan membahayakan, salah satunya adalah “attunu panroli” Rampe (42) salah seorang anggota Suku Kajang yang berdomisili di Moncongloe Kabupaten Maros, Sulsel mengatakan ritual ini biasanya dilakukan ketika terdapat masalah. Diantaranya terjadi kasus pencurian di tengah pemukiman masyarakat adat. Ritual ini dilakukan dengan cara memegang linggis yang telah dibakar merah membara sebagai wadah mengetes kejujuran masyarakatnya.

“Seluruh masyarakat wajib kumpul tanpa terkecuali mereka yang diduga sebagai pelaku pencurian di sebuah lapangan tempat upacara adat itu digelar. Upacara sendiri dipimpin langsung oleh ketua adat yang bergelar Ammatoa,” kata Rampe dilansir dari liputan6

Ammatoa yang memimpin ritual itu pun mengingatkan masyarakat yang hadir jika linggis ini tidak akan pernah terasa panas jika dipegang oleh seseorang yang bersifat jujur. Tapi jika sedikit pun ia tak jujur maka linggis panas ini akan melumat tangannya.

“Itu disampaikan oleh Ammatoa sembari mempertontonkan dengan memegang linggis panas tersebut di hadapan masyarakat adat dan mereka yang dicurigai sebagai maling ,” terang Rampe.

Jika pelaku kabur dari upacara sakral tersebut maka sesepuh adat akan berkumpul, dan mengucapkan mantra yang ditujukan kepada pelaku yang kabur, nantinya akan mengalami sakit dan berakhir dengan kematian.

Sedangkan ritual yang lain adalah “Doti”, Doti ritual yang mirip dengan santet yang digunakan untuk mencederai dan membunuh seseorang.

Tinggalkan komentar