AMMATOA.COM – Suku Kajang merupakan salah satu suku yang cukup dikenal di dunia. Selain kekuatan mistis yang dimilikinya, suku ini juga memiliki ragam budaya yang unik.

Di antaranya, ritual memberi makan bayangan. Bagi masyarakat Kajang, ritual penolak bala tersebut dilakukan setiap tahun, tetapi pelaksanaannya tertutup, berbeda dengan ritual menguji kejujuran yang disebut ritual attunu panrolik yang memang digelar di area umum dan disaksikan seluruh warga Kajang.

Ritual Sakral Suku Kajang Bulukumba
bayangan tampak di dinding

“Ritual memberi makan bayangan sendiri itu namanya ritual nganre sassang (makan dalam suasana gelap),” kata Daeng Rampe (42) warga Desa Batunilamung, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Rampe menjelaskan tujuan digelarnya ritual ini adalah untuk kemudahan dalam mencari rezeki bagi pelaksana ritual. “Tujuannya agar anggota keluarga yang menggelar ritual diberi selalu kesehatan dalam mencari rezeki,” dia menambahkan.

Ritual sakral warisan leluhur suku Kajang itu, kata Rampe, digelar pada Jumat malam. Anggota keluarga yang menggelar ritual menyiapkan lilin merah serta beberapa macam makanan yang terdiri dari pisang raja, nasi putih, nasi ketan tiga warna, dan dua ekor ayam bagi yang sudah berumah tangga dan seekor ayam bagi yang belum berumah tangga.

Tafsir Bayangan dalam Ritual Nganre Sassang


Saat ritual diadakan, lanjut Rampe, tak ada sedikit pun cahaya yang berasal dari listrik. Hanya cahaya dari sebuah lilin merah yang dibakar bersama buah kemiri.

“Sanro (dukun) membakar lilin bersama buah kemiri. Lalu diletakkan di hadapan anggota keluarga yang mengikuti ritual. Di situlah bayangan akan tampak di permukaan dinding rumah,” tutur Rampe.

Satu per satu anggota keluarga yang mengikuti ritual nganre sassang akan mendapat giliran maju ke hadapan dukun kampung Tana Toa Kajang yang bernama Puang Lanceng (67). Kemudian dukun tersebut meniup ubun-ubun anggota keluarga yang mengikuti ritual tersebut sambil membaca jampi-jampi berlogat Kajang.

“Nah, kalau bayangannya yang muncul ada dua berarti kesehatannya buruk sehingga Puang Lance kembali meniup ubun-ubun pemilik bayangan hingga bayangannya jadi normal alias hanya satu bayangan yang tampak,” ungkap Rampe.

Dalam prosesi peniupan ubun-ubun peserta ritual yang dilakukan oleh dukun, tak hanya dua bayangan peserta ritual yang muncul pada permukaan tembok, tetapi terkadang muncul satu bayangan dengan wujud berantakan. Seperti yang dialami Risna (6), anak sulung Daeng Rampe saat mengikuti ritual tersebut.

“Anakku rambutnya tersisir rapi, tapi saat ditiup ubunnya oleh Puang Lance, bayangannya yang muncul wujud rambutnya berantakan sekali. Sehingga Puang Lance kembali meniup dan bayangannya akhirnya normal seperti wujud aslinya,” Rampe menerangkan.

Syarat-Syarat Ritual

Ritual tolak bala nganre sassang tersebut wajib mengikuti syarat utama. Selain membakar lilin merah bersama buah kemiri, ayam kampung yang disediakan oleh peserta ritual disembelih terlebih dahulu, lalu seluruh isi dalam perut ayam itu dikeluarkan.

Bagian kepala dan kaki ayam kampung tersebut juga dibuang. Ayam kampung yang sudah dibersihkan itu, selanjutnya dimasak bersama rempah-rempah seperti membuat opor ayam.

“Ayam kampung yang sudah masak, kemudian diletakkan bersama dengan pisang raja, nasi putih, serta tiga jenis nasi ketan dalam satu talang (tempat). Lalu diletakkan di belakang warga Kajang yang mengikuti ritual. Makanan itu yang jadi makanan bayangan nantinya,” Rampe menandaskan.

Artikel: Ritual Sakral Suku Kajang Bulukumba, Beri Makan Bayangan Sendiri: VIA Regional.liputan6.com

Nganre Sassang: Ritual Sakral Suku Kajang, Beri Makan Bayangan Sendiri
4.3 (86.15%) 13 votes