Tradisi Pesta Nikah Suku Kajang di Bulukumba

oleh -266 views
kajang pengantin

Bulukumba Ammatoa.com – Jam menunjukkan angka tepat pukul 19.30 malam, suasana di rumah Puang Samo yang berencana akan menikahkan anak gadisnya dengan pria pilihannya, berangsur ramai dengan kehadiran kerabat, baik yang dekat maupun yang datang dari luar daerah seperti Kota Makassar.

Rumah Puang Samo berada di kawasan adat Suku Kajang, tepatnya di Dusun Balambina, Bulukumba. Tidak ada penerangan lampu listrik milik Perusahan Listrik Negara (PLN). Hanya ada penerangan lampu pijar ditempatkan di beberapa sudut rumah, sehingga wajah orang-orang tidak terlihat jelas.

Saat seluruh kerabat berkumpul, muncul pelayan yang juga merupakan keluarga dari penyelenggara pesta. Ia membawa nampan berisi minuman panas berupa teh dan kopi. Biasanya teh untuk wanita, dan kopi pada umumnya diberikan untuk laki-laki, tapi bisa juga sebaliknya.

Menemani minum teh atau kopi, pemilik pesta tidak lupa menyertakan kue tradisional khas Suku Kajang seperti uhu’uhu, kue rambut terbuat dari gula merah. Kampalo, beras ketan putih atau hitam dibungkus daun kelapa memanjang seperti lontong, bisa dimakan langsung, juga bisa dimakan dengan menggunakan ikan, dumpi eja atau kue merah terbuat dari gula aren yang dibentuk melingkar menyerupai kue cucur.

Sambil menikmati hidangan, para kerabat berbincang ringan tentang apa saja.

“Saat ada pelaksanaan pesta, tidak sekadar datang menyaksikan pengantin, tetapi juga sebagai ajang untuk bertemu keluarga yang lama tidak ketemu, utamanya bagi keluarga yang pergi merantau bahkan hingga ke luar negeri,” kata wanita 45 tahun itu.

Selain itu, lanjutnya, dengan melaksanakan pesta di kampung halaman akan mengingatkan lagi memori kepada keluarga yang jarang pulang walau sekadar sekali setahun, khususnya momen setelah bulan puasa atau Idul Fitri.

Saat berbincang dengan lawan bicara yang ada di samping, atau di sekitar, kita hanya akan ditandai lewat suara. Biasanya suara orang Suku Kajang besar-besar dan mudah untuk dikenali. Karena tidak bisa melihat wajah dengan jelas, apalagi yang matanya rabun.

Perbincangan berlangsung cukup lama sampai sebelum ritual acara malam pacar, atau malam mappaci, atau di Pulau Jawa dikenal dengan malam midodareni dilakukan.

Ritual pertama bagi pengantin Suku Kajang adalah Ajjaga Leko dengan tiga fase utama.

Hal pertama yang dilakukan adalah melaksanakan kelong jaga atau nyanyian pesta. Ada yang dilakukan oleh beberapa orang dengan iringan gendang dan yang dilakukan oleh dua orang tanpa nada yang jelas, gendang dipukul tidak beraturan.

Kelong jaga dimulai pada saat orang yang dituakan di kampung menghadap ke arah para pemangku adat, nyanyian pesta dimulai. Nyanyian ini dilakukan di depan para pemangku adat dan diikuti orang-orang yang paham akan nyanyian tersebut. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit.

Berlanjut ke prosesi selanjutnya yakni pelaksanaan anggada atau melaksanakan gelaran adat, proses yang dimaksudkan untuk menggelar makanan dan minuman di depan para pemangku adat. Dalam hal ini adalah acara para pemangku adat dan ‘pattoa’ (orang yang dimuliakan) acara ini disebut ‘sihokang’.

Sihokang adalah suguhan arak atau tuak yang ditaruh dalam mangkok dan ‘lahara’ makanan tradisional terdiri dari daging bakar atau ikan yang diiris kecil-kecil, dicampur kelapa parut serta cuka atau jeruk nipis.

Berlanjut ke ‘galla’ puto’ bertanya kepada penanggung jawab pesta, “Apa sebabnya kamu menyuguhkan arak atau tuak dan lahara kepada kami? Kalau seandainya ini di siang hari atau karena kita telah mengerjakan sesuatu, kita dapat memakluminya, tetapi ini apabila kita menoleh ke atas, melihat langit-langit rumah yang terbuat dari kain ‘palekko’ (daun sirih dan pelepah kelapa yang tergantung di dinding rumah) dan kalau kita menoleh ke bawah, kita melihat ‘jali’ (tikar yang terbuat dari rotan ) dan tappere lojjo (tikar yang berlapis dua yang terbuat dari daun lontara).”

Proses berikutnya yang dilaksanakan saat malam sebelum resepsi adalah Abba’ra’ atau berbedak. Pada prosesi ini berkumpul keluarga dekat dan para sahabat memberikan doa restu kepada calon mempelai dengan menyuguhkan daun sirih yang sudah dibentuk sedemikian rupa yang disebut Kalomping disertai ikatan daun tinappasa dan daun sirih merah dan tiga buah piring kecil berisi tepung budak (kapur) berwarna putih, kuning dan segenggam beras diletakkan di piring.

“Setiap keluarga yang kena giliran, Abbara memercikkan air yang terdapat dalam mangkok tersebut dengan ikatan daun tinappasa’ dan daun sirih merah yang dinamakan andingngi (memberikan kesejukan),” kata Samo menambahkan.

Ajjaga Roa’

Puncak pesta pernikahan dilakukan pada hari berikutnya, dikenal dengan sebutan Ajjaga roa yang artinya dari sekian banyak tahapan dalam pelaksanaan pesat perkawinan, acara inilah inti upacara pesta perkawinan.

“Ajjaga roa’ dilaksanakan oleh kedua belah pihak, namun dalam hal pelaksanaan sedikit ada perbedaan, yaitu pesta pihak mempelai laki-laki dilangsungkan lebih dahulu daripada mempelai perempuan,” kata Puang Mappabali, seorang kerabat Samo.

Menurut pria yang merantau di Kalimatan Selatan ini, menyebut inti dari Ajjaga roa ini selain menjamu para tamu, juga diadakan acara mengadat, yaitu menyuguhkan makanan dan minuman kepada para pemangku adat.

“Setelah acara ‘ajjaga roa’ di tempat mempelai laki-laki, barulah mempelai wanita yang didahului dengan beberapa utusan, yaitu ‘suro’ berangkat lebih dahulu membawa mahar yang telah ditetapkan pada malam ‘ajjaga leko’ ke rumah mempelai wanita, ketika suro tiba di rumah mempelai wanita, maka acara ‘angngatta sunrang’ segera dimulai yang dihadiri oleh kedua belah pihak yang telah berbicara sebelumnya dan disaksikan oleh para pemangku adat,” ujarnya.

Mange Basa

Prosesi paling akhir dari pesta pernikahan masyarakat Suku Kajang adalah melaksanakan mange basa, orang Bugis biasa menyebut dengan mapparola. Pada prosesi ini mempelai wanita datang untuk diantar ke rumah suaminya atau ke rumah mertuanya setelah acara penting dalam kaitan pernikahan selesai.

Ketika pengantin wanita telah masuk ke rumah, dilanjutkan dengan acara “palanre bunting’ atau memberikan makanan kepada pengantin wanita dilanjutkan kepada keluarga yang masih ada di tempat itu.

“Apabila acara itu selesai, maka datanglah keluarga pengantin laki-laki bersalaman kepada pengantin wanita dan memberi semacam hadiah untuk kebutuhan rumah tangga, seperti periuk, wajan. Acara ini disebut ‘assolo’ yang dikenal di daerah Makassar dengan istilah ‘angngeori’,” ujarnya.

Saat acara tersebut di atas telah usai, pengantin wanita kembali ke rumahnya disertai pemberian orang tua mempelai laki-laki berupa padi, jagung dan lain-lain, serta hadiah keluarga pada acara ‘assolo’ di atas.

Seluruh rangkaian acara perkawinan secara adat di atas berakhir pada dini hari. []

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *